Powered By Blogger

Rabu, 28 Desember 2011

Lirik Lagu Dance Pe Chance movies Rab Ne Bana Di Jodi

Lirik Lagu Dance Pe Chance movies Rab Ne Bana Di Jodi



Left Leg Aage Aage, Right Leg Pichay Pichay
Aaja Yaara Lets Start Ve
Sar Kho Gumale Round, Pear Zaara Up Down
Itni Si Ye Baat Ve
Woh Banda Hin Kya Hain, Jho Naache Na Gaaye
A Haaton Mein Tho Haath Thamle..
Oiii Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya, Dance Pe Chance Marle
Oh Baaliye, Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya, Dance Pe Chance Marle, Hainnn

(Peeche Peeche Aaya, Teri Chal Ven Dayaaa) - 2
Sano Lakh Hon Gaye Lashkaren, Ni Sano Tera Loang Lapiya
Dil Dekhe Tu Lejha Mundiyare, Ni Sano Tera Loang Lapiya

[ Dance Pe Chance Marle Song Lyrics @ http://www.hindilyrix.com ]

Oh Chal Haath Ghuma Le Yaara, Oh Jaise Soiya Saath Se Baara
Le Ban Gaya Step Soniya, Tu Ban Gaya Hep Soniya
Oh Zara Kamar Ko Aaise Ghumana, Oh Jaise Hawa Mein Aath Banana
Le Ban Gaya Step Soniya, Tu Ban Gaya Hep Soniya
Woh Banda Hin Kya Hain, Jho Naache Na Gaaye
Haaton Mein Tho Haath Thamle..
Oiii Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya, Dance Pe Chance Marle
Oh Baaliye, Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya, Dance Pe Chance Marle...

Oh Oh Oh Owwwww
(Gaali Tera Puth Tep Landa Tera Laalvi) - 2
Rup Te Laaniep Pernade Nussvani..
Gaali Teri, Gaali Teri, Gaali Teri....

Eak Haath Ko Ooncha Uthale, Oh Mandir Ki Gaanti Baajale
Le Ban Gaya Step Soniya, Tu Ban Gaya Hep Soniya
Hey, Hon Tu Jho Haath Hile Zara Neeche, Oh Jaise Uddthi Patang Koi Keenche
Le Ban Gaya Step Soniya, Tu Ban Gaya Hep Soniya
Woh Banda Hin Kya Hain, Jho Naache Na Gaaye
Haaton Mein Tho Haath Thamle..
Oiii Dance Pe, Dance Pe, Da Da Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya, Dance Pe Chance Marle
Oh Baaliye, Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya, Dance Pe Chance Marle..., Hain
Dance Peeeeeee, Dance Peeeeeeee
Dance Pe Chance Marle
Oh Soniya Dance Pe Chance Marleeeeeeee
Oh Soniye, Oh Soniye, Oh Soniye...

Read more: http://soniazen.blogspot.com/2011/07/lirik-lagu-dance-pe-chance-movies-rab.html#ixzz1htTq6Lbo

Selasa, 13 Desember 2011

IAD

1.      pendahuluan
Allah berfirman dalam Al Qur’an yang maksudnya :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah) bagi kalangan ulul albab. Yaitu mereka yang hatinya selalu bersama Allah di waktu berdiri, duduk dan dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka perliharalah kami dari azab neraka.
(QS Al Imron 190-191)
Dari ayat ini dapat kita lihat, bahwa melalui pengamatan, kajian dan pengembangan sains dan teknologi, Allah menghendaki manusia dapat lebih merasakan kebesaran, kehebatan dan keagunganNya. Betapa hebatnya alam ciptaan Allah, yang kebesaran dan keluasannyapun manusia belum sepenuhnya mengetahui, maka sudah tentu Maha hebat lagi Allah yang menciptakannya. Tidak terbayangkan oleh akal fikiran dan perasaan manusia Maha Hebatnya Allah. Kalaulah alam semesta yang nampak secara lahiriah saja sudah begitu luas, menurut kajian dengan menggunakan peralatan terkini yang canggih diameternya 20 milyar tahun cahaya, terasa betapa besar dan agungnya Allah yang menciptakannya. Ini alam lahiriah yang nampak dan dapat diukur secara lahiriah, belum lagi alam-alam yang berbagai jenis yang tidak dapat dikaji dan diobservasi dengan peralatan lahiriah buatan manusia, walau secanggih apapun. Maka melalui kajian sains dan pengembangan teknologi, sepatutnya rasa hamba para saintis dan teknolog meningkat. Tetapi sedikit sekali saintis dan teknolog yang meningkat rasa hambanya, yang semakin tawadhu, yang semakin cinta dan takut dengan Allah. Bahkan kebanyakannya semakin mereka menemukan benda-benda dan inovasi-inovasi yang baru, semakin bangga dan rasa hebat. Bukanbertambah rasa kehambaan, rasa takut dan cintakan Allah. Sebenarnya, bukan saja sains dan teknologi yang Allah ketahui. Karena Allah hendak menjadikan manusia ini sebagai hamba danmenjadikan khalifah mentadbir dunia maka Allah tahu apa yang mesti dibekalkan. Jadi Allah datangkan manusia ke dunia bukan dengan tangan kosong. Tapi Allah siapkan khazanah, aset kekayaan baik yang bersifat material atau pun yang berupa ilmu, sains dan teknologi. Supaya khazanah-khazanah, kekayaan dan segala kepandaian yang Tuhan izinkan manusia menguasainya, dapat digunakan untuk hambahamba Allah, dapat dibagi-bagikan, supaya dimanfaatkan untuk hamba-hamba Allah, supaya benda-benda itu dikhidmatkan kepada manusia. Jadi melalui peranan hamba dan khalifah tadi dengan kekayaan, bahan-bahan, aset-aset, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang diberikan Allah, mereka pun memanfaatkan untuk membangun peradaban material yang berguna bagi seluruh manusia. Maka akan timbullah kasih sayang diantara manusia yang ramai dan lemah ini supaya manusia yang sedikit dan kuat itu dapat memberikan khidmat dan manfaat. Maka terjadilah kasih sayang antara berbagai kelompok manusia, hidup harmoni dan bahagia. Jadi sains dan teknologi tidak berdiri sendiri. Tuhan jadikan kekayaan, bahan-bahan, aset-aset, ilmu pengetahuan, sains dan teknologi serta produk-produk yang dihasilkannya sebagai alat, sebagai perhubungan supaya lahir kasih sayang antara sesama manusia. Maka hiduplah manusia di muka bumi ini dengan aman, damai, harmoni dan makmur. Namun, manusia, yang memang pun digelar ‘insan’, yang artinya pelupa, kebanyakan manusia lupa bahwa alat-alat tersebut, baik berupa ilmu, teknologi ataupun aset bahan dan material, sebenarnya Allah berikan untuk dijadikan alat berkasih sayang antar sesama manusia.
Padahal Allah yang Maha Pengasih, Penyayang, sentiasa mengingatkan manusia sekurang-kurangnya lima kali sehari semalam. Di akhir ibadah asas penghambaan manusia kepada Allah, yaitu sholat, Allah ingatkan manusia untuk memberi salam ke sebelah kiri dan ke sebelah kanan. Seolah Allah ingatkan, ‘Lepas ini buktikan penghambaan engkau kepada Ku dengan cara berkhidmat, menebarkan kasih sayang ke seluruh makhluk dengan menggunakan bekalan yang Aku beri.
Dari segi ini saja dapat kita lihat banyaknya manfaat sains dan teknologi bagi kehidupan masyarakat muslim diseluruh belahan dunia, dan mari kita lihat beberapa bagian manfaat sains dan teknologi bagi masyarakat islam di bawah ini.

Sains dan teknologi berkait rapat denganaspek-aspek ajaran Islam yang murni.
Sebagai agama ‘tauhid’, Islam tidakmengizinkan kita memisahkan kehidupanmanusia      termasuk sains dan teknologi daridasar-dasar dan prinsip-prinsipnya.
Disebabkan kekaburan maklumat yang diterima, ada di kalangan masyarakat yang
menganggap sains dan teknologi sebagai suatu yang asing dari Islam.

Maksud Sains dalam Islam
Sains itu merupakan suatu proses untuksampai kepada suatu kebenarandisebabkanpertanyaan manusia terhadap asal usul dantujuan kewujudan sesuatu di alam semestaini.Kaedah yang digunakan untuk sampai kepadakebenaran mutlak ialah melalui kajianemperikal, dan pengumpulan data-datanyapula adalah melalui pancaindera serta
pemikiran manusia sahaja.
Sains Islam adalah ilmu pengetahuantertentu, yang lahir hasil dari gabungan unsur
fizik dan metafizik.Gabungan antara ilmu intelek dan ilmuwahyu.danGabungan antara falsafah dan sains yangpadaprinsipnyaiaselarasdenganajaranajarandan konsep-konsep dasar dalam islam

PERANAN SAINS ISLAM
Membantu manusia mengenali Allah sebagai pencipta
Membantu manusia memahami persoalan Tauhid.
Menegakkan hakikat kebenaran
Membawa manusia bersifat tafakkur
Membantu manusia memenuhi keperluan material
Membantu dalam perlaksanaan syariat
Menghubungkan nilai etika dengan sains, sains denganagama dan sains dengan
    Al Quran dan As Sunnah
Memenuhi keperluan manusia kepada konsep keindahan.
Tuntutan Mengkaji Sains danTeknologi Dalam Islam
Sains adalah fardhu kifayah yang membantu untuk melaksanakan fardhu ain
Ayat-ayat Al Quran menyeru manusia berfikir,menggunakan aqal, membanding, mengkaji,Sains adalah ilmu pelengkap kehidupan manusia, hidup manusia menjadi mudah dan sempurna hasil kemajuan sains dan teknologi


Peranan Sains dan teknologiIslam
#.  Menambah keimanan
#.  Membuktikan kewujudan Allah swt
#.  Memantu manusia beribadat
#.  Menyerlahkan kebenaran
#.  Memartabatkan minda dan akal fikiran
#.  Supaya ilmu terarah kepada kebenaran
#.  Bukti Al Quran firman Allah yang asli
#.  Membentuk negara yang tidak didominasi

Jumat, 18 November 2011

SOLIH


Nama : Solikhudin
Jur/Prodi : TAR/PAI NR A2
NIM : 102338065


Di dalam Al-Quran sesungguhnya sudah ada sekilas tentang penjelasan waktu-waktu shalat fardhu, meski tidak terlalu jelas diskripsinya. Di bawah ini saya akan membacakan dua dari beberapa dalil yang ada dalam al Qur'an.
Ayat Pertama:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat“(QS. Huud: 114)
Menurut para mufassriin, di ayat ini disebutkan waktu shalat, yaitu kedua tepi siang, yaitu shalat shubuh dan ashar. Dan pada bahagian permulaan malam, yaitu Maghrib dan Isya`.
Ayat kedua
أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan (QS. Al-Isra`: 78)
Menurut para mufassrin, di dalam ayat ini disebutkan waktu shalat yaitu sesudah matahari tergelincir, yaitu shalat Zhuhur dan Ashar. Sedangkan gelap malam adalah shalat Maghirb dan Isya` dan Qur`anal fajri yaitu shalat shubuh.


Waktu-waktu Shalat Fardhu di Dalam Al-Hadits
Sedangkan bila ingin secara lebih spesifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu shalat, kita boleh merujuk kepada hadits-hadits Rasululah SAW yang shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-Karim. Di antaranya adalah hadits-hadits berikut ini:
Dari Jabir bin Abdullah ra. bahawa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya, “Bangunlah dan lakukan shalat.” Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata, “Bangun dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar merekah/ menjelang. (HR Ahmad, Nasai dan Tirmizy. )
Di dalam Nailul Authar disebutkan bahawa Al-Bukhari mengatakan bahawa hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang waktu-waktu shalat.
Selain itu ada hadits lainnya yang juga menjelaskan tentang waktu-waktu shalat. Salah satunya adalah hadits berikut ini:
Dari `Uqbah bin Amir ra bahawa Nabi SAW bersabda, “Ummatku selalu berada dalam kebaikan atau dalam fithrah selama tidak terlambat melakukan shalat Maghrib, yaitu sampai muncul bintang.“(HR Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak.)


Lebih Detail Tentang Waktu Shalat Dalam Kitab-kitab Fiqih
Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh mendiskripsikan apa yang mereka fahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih yang menjadi masterpiece para fuqoha.
Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut:
1. Waktu Shalat Fajr (Shubuh)
Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.
Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.
2. Waktu Shalat Zhuhur
Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri.
3. Waktu Shalat Ashar
Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini:
Dari Abi Hurairah ra berkata bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar.” (HR Muslim dan enam imam hadits lainnya).Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahawa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam.
Dari Abdullah bin Umar ra bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning.”(HR Muslim)
4. Waktu Shalat Maghrib
Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:
Dari Abdullah bin Amar ra bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega).” (HR Muslim).
Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahawa syafaq adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah:
Dari Abi Hurairah ra bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam.” (HR Tirmizy)
Namun menurut kitab Nashbur Rayah bahawa hadits ini sanadnya tidak shahih.
5. Waktu Shalat Isya`

Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahawa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.
Sedangkan waktu muhktar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.
Dari Abu Hurairah ra. bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan/ menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya..” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy).


Rabu, 16 November 2011

waktu - waktu sholat fardlu


Hadits yang saya bawakan ini adalah hadits yang menjelaskan tentang waktu – waktu sholat fardlu. Adapun yang meriwayatkan hadits ini adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dan dari Jabir serta yang lainnya, Adapun dalil mengenai ditentukanya waktu – waktu sholat fardlu adalah sebagai berikut.







Artinya:

1]. Waktu shalat Dzuhur mulai dari tergelincirnya matahari sampai ketika bayangan sebuah benda sama panjang dengan aslinya.
[2]. Waktu shalat Ashar mulai dari ketika bayangan sebuah benda sama panjang dengan aslinya sampai tenggelam matahari. Akan tetapi, waktu ketika matahari telah menguning adalah waktu darurat
[3]. Waktu shalat Maghrib mulai dari tenggelam matahari sampai hilangnya warna kemerahan dari ufuk sebelah barat.
[4]. Waktu shalat Isya mulai dari hilangnya warna kemerahan dari ufuk sebelah barat sampai pertengahan malam
[5]. Waktu shalat Shubuh mulai dari terbit fajar sampai terbit matahari
Sedangkan bila ingin secara lebih spasifik mengetahui dalil tentang waktu-waktu shalat, kita bisa merujuk kepada hadits-hadits Rasululah SAW yang shahih dan qath`i. Tidak kalah qath`inya dengan dalil-dalil dari Al-Quran Al-Kariem. Diantaranya adalah hadits-hadits berikut ini :
Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW didatangi oleh Jibril as dan berkata kepadanya,”Bangunlah dan lakukan shalat”. Maka beliau melakukan shalat Zhuhur ketika matahari tergelincir. Kemudian waktu Ashar menjelang dan Jibril berkata,”Bangun dan lakukan shalat”. Maka beliau SAW melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan segala benda sama dengan panjang benda itu. Kemudian waktu Maghrib menjelang dan Jibril berkata,”Bangun dan lakukan shalat”. Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika mayahari terbenam. Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril berkata,”Bangun dan lakukan shalat”. Maka beliau SAW melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega merah) menghilang. Kemudian waktu Shubuh menjelang dan Jibril berkata,”Bangun dan lakukan shalat”. Maka beliau SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar merekah / menjelang. (HR. Ahmad, Nasai dan Tirmizy. )
Di dalam Nailul Authar disebutkan bahwa Al-Bukhari mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang waktu-waktu shalat.


    Lebih Detail Tentang Waktu Shalat Dalam Kitab-kitab Fiqih
Dari isyarat dalam Al-Quran serta keterangan yang lebih jelas dari hadits-hadits nabawi, para ulama kemudian menyusun tulisan dan karya ilmiah untuk lebih jauh mendiskripsikan apa yang mereka pahami dari nash-nash itu. Maka kita dapati deskripsi yang jauh lebih jelas dalam kitab-kitab fiqih yang menjadi masterpiece para fuqoha. Diantaranya yang bisa disebutkan antara lain kitab-kitab berikut ini :
# Kitab Fathul Qadir jilid 1 halaman 151-160,
# Kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 331 s/d 343,
# Kitab Al-Lubab jilid 1 halaman 59 – 62,
# Kitab Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 43,
# Kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 219-338,
# Kitab Asy-Syarhul-Kabir jilid 1 halaman 176-181,
# Kitab Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 121 – 127,
# Kitab Al-Muhazzab jilid 1 halaman 51 – 54 dan
# Kitab Kasysyaf Al-Qanna` jilid 1 halaman 289 – 298.

Di dalam kitab-kitab itu kita dapati keterangan yang jauh lebih spesifik tentang waktu-waktu shalat. Kesimpulan dari semua keterangan itu adalah sebagai berikut :

1. Waktu Shalat Fajr (Shubuh)
Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.
Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib.
Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benar-benar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.
Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yang menjadi waktu untuk shalat shubuh.
Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini :
“Fajar itu ada dua macam. Pertama, fajar yang mengharamkan makan dan menghalalkan shalat. Kedua, fajar yang mengharamkan shalat dan menghalalkan makan.”. (HR. Ibnu Khuzaemah dan Al-Hakim).
Batas akhir waktu shubuh adalah terbitnya matahari sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini.
Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasululah SAW bersabda,”Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari”. (HR. Muslim)

2. Waktu Shalat Zhuhur
Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah yang sering digunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah tergelincirnya matahari (Zawalus-Syamsi).Zawalus-Syamsi adalah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala.
Dan waktu untuk shalat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiring dengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhuhur berakhir dan masuklah waktu shalat Ashar.
Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa matahari tepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur.

3. Waktu Shalat Ashar
Waktu shalat Ashar dimulai tepat ketika waktu shalat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Dan selesainya waktu shalat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini :
Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan shalat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan shalat Ashar”. (HR. Muslim dan enam imam hadits lainnya).
Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan shalat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits nabi yang menyebutkan bahwa shalat di waktu itu adalah shalatnya orang munafiq.
Dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”…Itu adalah shalatnya orang munafik yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit”. (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah).
Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinar matahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam.
Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Dan waktu shalat Ashar sebelum matahari menguning”.(HR. Muslim)
Shalat Ashar adalah shalat Wustha menurut sebagian besar ulama. Dasarnya adalah hadits Aisyah ra.
Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW membaca ayat :”Peliharalah shalat-shalatmu dan shalat Wustha”. Dan shalat Wustha adalah shalat Ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmizy dan dishahihkannya)
Dari Ibnu Mas`ud dan Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Shalat Wustha adalah shalat Ashar”. (HR. Tirmizy)
Namun masalah ini memang termasuk dalam masalah yang diperselisihkan para ulama. Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid 1 halaman 311 menyebutkan ada 16 pendapat yang berbeda tentang makna shalat Wustha. Salah satunya adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa shalat Wustha adalah shalat ashar. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa shalat itu adalah shalat shubuh.

4. Waktu Shalat Maghrib
Dimulai sejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadi ijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW :
Dari Abdullah bin Amar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)”. (HR. Muslim).
Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As-Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifah berpendapt bahwa syafaq adalah warna keputihan yang berada di ufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telah hilang. Dalil beliau adalah :
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam”. (HR. Tirmizy).Namun menurut kitab Nashbur Rayah bahwa hadits ini sanadnya tidak shahih.

5. Waktu Shalat Isya`
Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu shalat itu memanjang dari berakhirnya waktu shalat sebelumnya hingga masuknya waktu shalat berikutnya, kecuali shalat shubuh.
Dari Abi Qatadah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum shalat hingga datang waktu shalat berikutnya”. (HR. Muslim)
Sedangkan waktu muhktar (pilihan) untuk shalat `Isya` adalah sejak masuk waktu hingga 1/3 malam atau tengah malam. Atas dasar hadits berikut ini.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Seandainya aku tidak memberatkan umatku, aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan / menunda shalat Isya` hingga 1/3 malam atau setengahnya.”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmizy)..
Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Waktu shalat Isya` hingga tengah malam”(HR. Muslim dan Nasai)


E. Waktu Shalat Yang Diharamkan
Ada lima waktu dalam sehari semalam yang diharamkan untuk melakukan shalat. Tiga di antaranya terdapat dalam satu hadits yang sama, sedangkan sisanya yang dua lagi berada di dalam hadits lainnya.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani ra berkata,”Ada tiga waktu shalat yang Rasulullah SAW melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan orang yang meninggal di antara kami. [1] Ketika matahari terbit hingga meninggi, [2] ketika matahari tepat berada di tengah-tengah cakrawala hingga bergeser sedikit ke barat dan [3] berwarna matahari berwarna kekuningan saat menjelang terbenam. .(HR. Muslim)
Sedangkan dua waktu lainnya terdapat di dalam satu hadits berikut ini :
Dari Abi Said Al-Khudri ra berkata,”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Tidak ada shalat setelah shalat shubuh hingga matahari terbit. Dan tidak ada shalat sesudah shallat Ashar hingga matahari terbenam.(HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua waktu ini hanya melarang orang untuk melakukan shalat saja, sedangkan masalah menguburkan orang yang wafat, tidak termasuk larangan. Jadi boleh saja umat Islam menguburkan jenazah saudaranya setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit, juga boleh menguburkan setelah shalat Ashar di sore hari.
Maka kalau kedua hadits di atas kita simpulkan dan diurutkan, kita akan mendapatkan 5 waktu yang di dalamnya tidak diperkenankan untuk melakukan shalat, yaitu :

a. Setelah shalat shubuh hingga matahari agak meninggi.
Tingginya matahari sebagaimana di sebutkan di dalam hadits Amru bin Abasah adalah qaida rumhin aw rumhaini. Maknanya adalah matahari terbit tapi baru saja nongol dari balik horison setinggi satu tombak atau dua tombak. Dan panjang tombak itu kira-kira 2,5 meter 7 dzira’ (hasta). Atau 12 jengkal sebagaimana disebutkan oleh mazhab Al-Malikiyah.

b. Waktu Istiwa`
Yaitu ketika matahari tepat berada di atas langit atau di tengah-tengah cakrawala. Maksudnya tepat di atas kepala kita. Tapi begitu posisi matahari sedikit bergeres ke arah barat, maka sudah masuk waktu shalat Zhuhur dan boleh untuk melakukan shalat sunnah atau wajib.

c. Saat Terbenam Matahari
Yaitu saat-saat langit di ufuk barat mulai berwarna kekuningan yang menandakan sang surya akan segera menghilang ditelan bumi. Begitu terbenam, maka masuklah waktu Maghrib dan wajib untuk melakukan shalat Maghrib atau pun shalat sunnah lainnya.

d. Setelah Shalat Shubuh Hingga Matahari Terbit
Namun hal ini dengan pengecualian untuk qadha’ shalat sunnah fajar yang terlewat. Yaitu saat seseorang terlewat tidak melakukan shalat sunnah fajar, maka dibolehkan atasnya untuk mengqadha’nya setelah shalat shubuh.

e. Setelah Melakukan Shalat Ashar Hingga Matahari Terbenam.
Maksudnya bila seseorang sudah melakukan shalat Ahsar, maka haram baginya untuk melakukan shalat lainnya hingga terbenam matahari, kecuali ada penyebab yang mengharuskan. Namun bila dia belum shalat Ashar, wajib baginya untuk shalat Ashar meski sudah hampir maghrib.

F. Bila Waktu Shalat Telah Lewat
Bila seseorang kesiangan bangun dari tidurnya dan belum shalat shubuh, maka lakukan segera shalat shubuh pada saat bangun tidur. Tidak diqadha dengan zhuhur pada siangnya atau esoknya. Sebab kita telah mendapatkan keterangan jelas tentang hal itu dari apa yang dialami oleh Rasulullah SAW sendiri.
Beliau dan beberapa shahabat pernah bangun kesiangan dan melakukan shalat shubuh setelah matahari meninggi.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إذَا ذَكَرَهَا لَا كَفَّارَةَ لَهَا إلَّا ذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Artinya:
“Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya”. (HR Muttafaq alaihi)

Oleh karena itu, orang-orang yang kesiangan wajib menunaikan sholat shubuh tersebut pada saat ia tersadar atau terbangun dari tidurnya (tentunya setelah bersuci terlebih dahulu), walaupun waktu tersebut termasuk waktu-waktu yang terlarang melaksanakan sholat.

Karena pelarangan sholat pada waktu-waktu tersebut berlaku bagi sholat-sholat sunnah muthlak yang tidak ada sebabnya. Sedangkan bagi sholat yang memiliki sebab seperti halnya orang yang ketiduran atau kelupaan, diperbolehkan melaksanakan sholat tersebut pada waktu-waktu terlarang.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat sebelum matahari terbit maka dia telah mendapatkan sholat tersebut (shalat shubuh).” (HR Bukhari no. 579 dan Muslim no. 608)
Di antara salah satu rahasia untuk bisa bangun di waktu shubuh bukan memasang jam wekker. Tetapi dengan cara tidur di awal malam. Jangan biasanya tidur terlalu larut malam. Sebab selain akan membuat lesu badan, juga sulit bangun shubuh. Secara nalar, setiap orang yang tidur di awal malam, pastilah pada jam 04.00 dini hari sudah merasakan istirahat yang cukup. Secara biologis, tubuh akan bangun dengan sendirinya, mata terbuka dengan sendirinya juga. Sebaliknya, bila tidur larut malam, misalnya di atas jam 24.00, sulit buat kita untuk memastikan bangun pada jam 04.00 dini hari. Sebab secara biologis, tubuh kita masih menuntut lebih banyak waktu istirahat lebih banyak.

Tapi yang paling utama dari semua itu adalah niat yang kuat di dalam dada. Ditambah dengan kebiasaan yang baik, dimana setiap anggota keluarga merasa bertanggung-jawab untuk saling membangunkan yang lain untuk shalat shubuh.
Kalau mau memasang alarm atau wekker, letakkan di tempat yang sudah terjangkau dan deringnya cukup lama serta memekakkan telinga. Jangan letakkan di balik bantal, karena biasanya dengan mudah bisa dimatikan lalu tidur lagi.
Wallahu A’lam

Kamis, 10 November 2011

Baraka Allahu Lakuma

Baraka Allahu Lakuma Lyrics

By: Maher Zain
We’re here on this special day
Our hearts are full of pleasure
A day that brings the two of you
Close together
We’re gathered here to celebrate
A moment you’ll always treasure
We ask Allah to make your love
Last forever
Let’s raise our hands and make Du’a
Like the Prophet taught us
And with one voice

Let’s all say, say, say
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.
From now you’ll share all your chores
Through heart-ship to support each other
Together worshipping Allah
Seeking His pleasure
We pray that He will fill your life
With happiness and blessings
And grants your kids who make your home
Filled with laughter
Let’s raise our hands and make Dua
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.
بارك الله
بارك الله لكم ولنا
الله بارك لهما
الله أدم حبهما
الله صلّي وسلّم على رسول الله
الله تب علينا
الله ارض عنا
الله اهد خطانا
على سنة نبينا
Let’s raise our hands and make Du’a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say
بارك الله لكما وبارك عليكما
Barakallahu Lakuma wa Baraka alikuma